Cumbuan Sang Pejantan Tangguh – 2

*Dari Bagian 1*

Saat aku sampai di depan pintu kamar kostnya yang terbuka, aku terdiam
sejenak. Keraguan besar mendadak menyerangku, dan itu ternyata ditangkap
oleh Hasan. Dengan tenang dia menangkap bahuku dari belakang dan dengan
pelan dia mendorongku masuk ke dalam. Setelah menutup pintu dan
menguncinya, lalu tangannya turun ke pinggulku dan kemudian memutar
tubuhku sehingga kini kami saling berhadapan untuk pertama kalinya sejak
dari kolam renang.


Kami berhadapan sejenak, lalu Hasan tersenyum dan kembali bibirnya
mengecup bibir bawah dan atasku bergantian dan berusaha membangkitkan
gairahku lagi. Aku mendesah kecil ketika tangannya turun ke bokongku
kemudian meremasnya lalu menarik tubuhku merapat ke tubuhnya. Bibirnya
perlahan mengecup bibirku, bibirnya merambat di antara dua bibirku yang
tanpa sadar merekah menyambutnya.
Lidah itu begitu lihai bermain di antara kedua bibirku mengorek-ngorek
lidahku agar keluar. Sapuan lidahnya menimbulkan sensasi-sensasi nikmat
yang belum pernah aku rasakan, sehingga dengan perlahan lidahku dengan
malu-malu mengikuti gerakan lidahnya mencari dan mengikuti kemana
lidahnya pergi. Dan ketika lidahku menjulur memasuki mulutnya, dengan
sigap Hasan menyambutnya dengan lembut dan menjepit lidahku di antara
langit-langit dan lidahnya. Tubuhku menggeliat menahan nikmat yang
timbul, itulah ciuman ternikmat yang pernah kurasakan dalam hidupku.
Pada saat itulah aku merasa Hasan membuka kancing-kancing bajuku.
Tubuhku sedikit menggigil ketika udara malam yang dingin menerpa tubuhku
yang perlahan-lahan terbuka ketika Hasan berhasil memerosotkan bajuku ke
lantai. Kemudian tangannya menjulur lagi ke pinggul, kemudian berhenti
di bokong untuk meraih retsleting yang ada di rokku lalu menariknya ke
bawah dan menanggalkan rokku ke lantai.
Aku lalu membuka mataku perlahan-lahan dan kulihat Hasan sedang
menatapku dengan tajam tanpa berkedip. Dia tampak tertegun melihat tubuh
mulusku yang hanya terbungkus oleh BH dan CD yang ketat. Sorotan matanya
yang tajam menyapu bagian-bagian tubuhku secara perlahan, pandangannya
agak lama berhenti pada bagian dadaku yang kencang membusung. BH-ku yang
berukuran 34B memang hampir tak sanggup menampung bongkahan dadaku,
sehingga menampilkan pemandangan yang mengundang syahwat lelaki, apa
lagi darah muda seperti Hasan.
Tatapan matanya cukup membuatku merasa hangat, dan dalam hati kecilku
ada perasaan senang dan bangga dipandangi lelaki dengan tatapan penuh
kekaguman sperti itu. Rasanya semua usahaku selama ini untuk menjaga
kekencangan tubuh tidak sia-sia. Aku terseret maju ketika lengan kekar
Hasan kembali merangkul pinggangku yang ramping dan menariknya merapat
ke tubuhnya. Tanganku terkulai lemas ketika sambil memelukku, Hasan
mengecup bagian-bagian leherku sambil tak henti-hentinya membisikkan
pujian-pujian akan kecantikan bagian-bagian tubuhku. Akhirnya kecupannya
sampai ke daerah telingaku dan lidahnya secara lembut menyapu bagian
belakang telingaku.
Aku menggelinjang, tubuhku bergetar sedikit dan rintihan kecil lepas
dari kedua bibirku. Hasan telah menyerang salah satu bagian sensitifku
dan dia mengetahui sehingga ia melakukannya berulang kali.
“Kak I’in.. Aku ingin menghabiskan malam ini bersama kamu.., jangan
menolak ya.. please..” bisiknya dengan penuh pesona.
Kemudian bibirnya kembali menyapu bagian belakang telingaku hingga
pangkal leherku. Aku tak sanggup menjawab, tubuhku terasa ringan dan
tanpa sadar tanganku kulingkarkan ke lehernya. Rupanya bahasa tubuhku
telah cukup dimengerti oleh Hasan sehingga dia menjadi lebih berani.
Tangannya telah membuka kaitan BH-ku dan dalam sekejap BH itu sudah
tergeletak di lantai.
Tubuhku serasa melayang. Ternyata Hasan telah mengangkat tubuhku,
dibopongnya ke tempat tidur dan dibaringkan secara perlahan. Kemudian
Hasan menjauhiku dan dengan perlahan mulai melepaskan pakaiannya. Aku
sangat menikmati pemandangan ini. Tubuh Hasan yang kekar dan berotot itu
tanpa lemak hingga menimbulkan gairah tersendiri untukku. Dengan hanya
mengenakan celana dalam, Hasan duduk di ujung ranjang. Aku berusaha
menduga-duga apa yang akan dilakukannya. Kemudian dia membungkuk dan
mulai menciumi ujung jariku kakiku. Aku merintih kegelian dan berusaha
mencegahnya, namun Hasan memohon agar dia dapat melakukannya dengan
bebas. Karena penasaran dengan sensasi yang ditimbulkannya, akhirnya aku
biarkan dia menciumi, menjilat dan mengulum jari-jari kakiku.
Aku merasa geli, tersanjung sekaligus terpancing untuk terus melanjutkan
kenikmatan ini. Bibirnya kini tengah sibuk di betisku yang menurutnya
sangat indah itu. Mataku terbelalak ketika kurasakan dengan perlahan
tapi pasti bibirnya semakin bergerak ke atas menyusuri paha bagian
dalamku. Rasa geli dan nikmat yang ditimbulkan membuatku lupa diri dan
tanpa sadar secara perlahan pahaku terbuka. Hasan dengan mudah
memposisikan tubuhnya di antara kedua pahaku. Aku berteriak tertahan
ketika Hasan mendaratkan bibirnya di atas gundukan vaginaku yang masih
terbungkus CD. Tanpa mempedulikan masih adanya celana dalam, Hasan terus
melumat gundukan tersebut dengan bibirnya seperti saat sedang menciumku.
Aku berkali-kali merintih nikmat, dan perasaan yang lama telah hilang
dalam setahun ini muncul kembali. Getaran-getaran orgasme mulai
bergulung-gulung, tanganku meremas apa saja yang ditemuinya, sprei,
bantal, dan bahkan rambut Hasan. Tubuhku tak bisa diam bergetar
menggeliat dan gelisah, mulutku mendesis tanpa sengaja, pinggulku
meliuk-liuk erotis secara refleks dan beberapa kali terangkat mengikuti
kepala Hasan. Untuk kesekian kalinya pinggulku terangkat cukup tinggi
dan pada saat itu Hasan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menarik
celana dalamku lepas. Aku agak tersentak tetapi puncak orgasme yang
makin dekat membuatku tak sempat berpikir untuk bertindak apa pun. Bukit
vaginaku yang sudah 3 bulan tak tersentuh suami terpampang di depan mata
Hasan.

Dengan perlahan lidah Hasan menyentuh belahannya, aku menjerit tak
tertahan dan ketika lidah itu bergerak turun naik di belahan vaginaku,
puncak orgasmeku datang tanpa tertahankan. Tanganku memegang dan meremas
rambut Hasan, tubuhku bergetar-getar dan melonjak-lonjak. Hasan tetap
bertahan pada posisinya, sehingga lidahnya tetap bisa menggelitik
klitorisku ketika puncak kenikmatan itu datang. Aku merasa
dinding-dinding vaginaku telah melembab, dan kontraksi-kontraksi khas
pada lorong vaginaku mulai terasa. Itulah salah satu kelebihanku yaitu
lorong vaginaku secara refleks akan membuat gerakan-gerakan kontraksi
hingga membuat suamiku selalu tak bisa bertahan lama.
Hasan tampaknya bisa melihat kontraksi-kontraksi itu, sehingga
membuatnya semakin bernafsu. Kini lidahnya semakin ganas dan liar
menyapu habis daerah selangkanganku, bibirnya ikut mengecup dan bahkan
cairanku yang mulai mengalir disedot habis olehnya. Nafasnya mulai
memburu, aku tak lagi bisa menghitung berapa kali aku mencapai puncak
orgasme oleh permainan lidah dan bibirnya. Hasan kemudian bangkit.
Dengan posisi setengah duduk dia melepaskan celana dalamnya. Beberapa
saat kemudian aku merasa batang yang sangat besar itu mulai menyentuh
selangkanganku yang basah.
Hasan membuka kakiku lebih lebar dan mengarahkan kepala kemaluannya ke
bibir vaginaku. Meskipun tidak terlihat olehku, aku bisa merasakan
betapa keras dan besarnya milik Hasan. Dia mempermainkan kepala penisnya
di bibir kemaluanku, digerakkan ke atas dan ke bawah dengan lembut untuk
membasahinya. Tubuhku seperti tidak sabar untuk menanti tindakan
selanjutnya, lalu gerakan itu berhenti. Dan aku merasa sesuatu yang
hangat mulai mencoba menerobos lubang kemaluanku yang masih sempit.
Tetapi karena liang itu sudah cukup basah, kepala penis itu dengan
perlahan tapi pasti terbenam, semakin lama semakin dalam.
Aku merintih panjang ketika Hasan akhrinya membenamkan seluruh batang
kemaluannya. Aku merasa sesak tetapi sekaligus merasakan nikmat yang
luar biasa, seakan seluruh bagian sensitif dalam liang itu tersentuh.
Batang kemaluan yang keras dan padat itu disambut hangat oleh dinding
vaginaku yang sudah 3 bulan tidak tersentuh. Cairan-cairan pelumas
mengalir dari dinding-dindingnya dan vaginaku mulai berdenyut hingga
membuat Hasan membiarkan kemaluannya terbenam agak lama untuk merasakan
kenikmatan denyutan vaginaku. Kemudian Hasan mulai menariknya keluar
dengan perlahan dan mendorongnya lagi, semakin lama semakin cepat.
Sodokan-sodokan yang sedemikian kuat dan buas membuat gelombang orgasme
kembali membumbung, dinding vaginaku kembali berdenyut. Kombinasi
gerakan kontraksi dan gerakan maju mundur membuat batang kemaluan Hasan
seakan diurut-urut, suatu kenikmatan yang tidak bisa disembunyikan oleh
Hasan hingga gerakannya semakin liar, mukanya menegang dan keringat
bertetesan dari dahinya. Melihat hal ini, timbul keinginanku untuk
membuatnya mencapai nikmat.
Pinggulku kuangkat sedikit dan membuat gerakan memutar manakala Hasan
melakukan gerakan menusuk. Hasan tampak terkejut dengan gerakan
‘dangdut’ ini hingga mimik mukanya bertambah lucu menahan nikmat, batang
kemaluannya bertambah besar dan keras, ayunan pinggulnya bertambah keras
tetapi tetap lembut. Akhirnya pertahanannya pun bobol, kemaluannya
menghunjam keras ke dalam vaginaku, tubuhnya bergetar dan mengejang
ketika spermanya menyemprot keluar dalam vaginaku berkali-kali. Aku pun
melenguh panjang ketika untuk kesekian kalinya puncak orgasmeku kembali
tercapai.

Sesaat dia membiarkan batangnya di dalamku hingga nafasnya kembali
teratur. Tubuhku sendiri lemas luar biasa, namun kuakui kenikmatan yang
kuperoleh sangat luar biasa dan belum pernah kurasakan sebelumnya selama
aku telah 10 tahun menikah. Kami kemudian terlelap kecapaian setelah
bersama-sama mereguk kenikmatan.
*Ke Bagian 3*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: