Cerita Lain Tentang Sang Pejantan Tangguh – 2

*Dari Bagian 1*

Lalu dengan tenang Hasan membersihkan cairan kenikmatan yang masih terus
mengalir keluar dari liang senggamaku, sementara aku masih menetralisir
aliran nafasku yang tersengal-sengal setelah mencapai puncak orgasme
yang luar biasa. Rasanya seluruh tubuhku remuk dan pegal, kemudian Hasan
pamit ke kamar mandi untuk berkumur sebentar.

Beberapa saat kemudian dia kembali sudah dalam keadaan telanjang bulat
dan langsung berdiri di samping kepalaku dengan batang kejantanannya
berdiri tegak menantang ke arahku. Aku merinding melihat besarnya batang
pelir milik Hasan dan saat membayangkan bagaimana rasanya saat batang
kontol yang besar itu memasuki liang vaginaku. Hasrat yang sempat turun
itu mulai naik lagi. Saat tanganku hendak memegangnya, Hasan bergerak
mundur hingga membuatku menjadi bingung.

“Hari ini biarkan aku saja yang muasin Kakak ya..” ucap Hasan sambil
duduk di tepi kasur.
“Maksud kamu..? Kakak nggak ngerti San..?” tanyaku bingung.
“Hari ini aku pengen sepuasnya menikmati setiap inci tubuh Kakak”
katanya tersenyum sambil membelai rambutku yang awut-awutan.
“Hari ini aku pengen membuat kakak mencapai kenikmatan sampai mau
pingsan.. Boleh ya Kak..?” pintanya memelas.
“Ya udah.. Terserah kamu aja..” jawabku, walaupun sebenarnya aku tidak
begitu paham dengan apa yang dia inginkan.

Kemudian dengan tersenyum Hasan mencium keningku yang dilanjutkannya
dengan mencium kedua mataku, lalu bibirnya mengecup hidung dan kedua
pipiku. Setelah menggosok-gosokkan hidungnya dengan hidungku, bibirnya
mengecup pelan bibirku. Dengan mesra aku melingkarkan kedua tanganku
pada lehernya dan menariknya agar lebih puas, aku ingin menikmati
permainan lidahnya dalam mulutku karena tadi aku merasa lidah itu
terlalu cepat turun ke bawah.

Lidah Hasan mulai menari-nari di dalam rongga mulutku, dengan lihainya
lidah itu menelusuri setiap sudut rongga mulutku seolah memiliki mata.
Sementara gerakan lidahku tidak dapat mengimbangi pergerakan lidah Hasan
yang sangat liar. Dan itu menimbulkan sensasi nikmat yang memabukkan.
Apa lagi saat kedua tangan Hasan mulai meremas-remas kedua buah
payudaraku yang telah mengeras lagi. Payudara berukuran 34B itu seakan
tenggelam dalam genggaman tangannya yang besar.

Hasan lalu memegang batang kemaluannya dan ditusukkannya ke celah-celah
bibir kemaluanku yang sudah sangat licin. Dengan lembut dia mendorong
pantatnya sampai akhirnya ujung kemaluan Hasan berhasil menerobos bibir
kemaluanku hingga membuat tubuhku menggeliat hebat ketika ujung kemaluan
yang besar itu mulai menyeruak masuk. Perlahan namun pasti rasa nikmat
mulai kurasakan dari arah selangkanganku.

Kenikmatan yang kurasa betul-betul membuatku hampir berteriak histeris.
Sungguh batang kemaluan Hasan luar biasa nikmatnya. Liang kemaluanku
serasa berdenyut-denyut saat menjepit ujung topi batang kemaluan Hasan
yang bergerak maju mundur secara perlahan. Dia terus menerus mengayunkan
pantatnya, sementara keringat kami berdua semakin deras mengalir dan
mulut kami masih terus berpagutan.

“Akkhh.. Ssaann..” aku menjerit perlahan saat kurasakan betapa batang
kemaluan Hasan menyeruak semakin dalam dan serasa begitu sesak memenuhi
liang senggamaku. Batang penisnya terasa berdenyut-denyut dalam jepitan
liang vaginaku. Apa lagi lidah Hasan yang panas mulai menyapu-nyapu
seluruh leherku dengan ganasnya hingga bulu kudukku serasa merinding di
buatnya.

Aku tak sadar saat Hasan kembali mendorong pantatnya hingga batang
kemaluannya yang terjepit erat dalam liang kemaluanku semakin menyeruak
masuk. Aku yang sudah sangat terangsang menggoyangkan pantatku untuk
memperlancar gerakan batang kemaluan Hasan dalam liang kemaluanku.
Kepalaku bergerak-gerak liar merasakan sensasi hebat yang sedang
kualami. Liang kemaluanku semakin berdenyut-denyut dan ada semacam
gejolak yang meletup-letup hendak pecah dari dalam diriku.

Bless.., dengan perlahan tapi pasti batang kemaluan yang besar itu
melesak ke dalam lubang kenikmatanku. Vaginaku terasa penuh sesak oleh
batang kemaluan Hasan yang besar itu.

“Hebat Kak.. Gak terasa kalau lubang kakak ini sudah dua kali ngeluarin
anak..” puji Hasan. Ini membuatku semakin merasa bangga dan bahagia.

Terasa kehangatan batang kemaluannya dalam jepitan liang kemaluanku.
Batang kemaluan Hasan mengedut-ngedut dalam jepitan lubang kenikmatanku.
Kemudian dengan perlahan sekali Hasan mulai mengayunkan pantatnya hingga
kurasakan batang kejantanannya menelusuri setiap inci liang
kenikmatanku. Ini menimbulkan sensasi yang teramat nikmat untukku. Aku
tak sempat mengerang karena tiba-tiba bibir Hasan sudah melumat bibirku.
Lidahnya menyeruak masuk ke dalam mulutku dan mencari-cari lidahku. Aku
pun membalasnya.

Hasan mendengus perlahan pertanda bahwa birahinya sudah mulai meningkat
sementara gerakan batang kemaluannya semakin mantap di dalam liang
kemaluanku. Aku dapat merasakan bagaimana batang kontolnya yang keras
menggesek-gesek dinding vaginaku. Aku pun mengerang dan tubuhku bergerak
liar menyambut gesekan batang kejantanannya. Pantatku mengangkat ke atas
seolah-olah mengikuti gerakan Hasan yang menarik batang kejantanannya
dengan cara menyentak seperti orang memancing sehingga hanya ujung
batang kejantanannya yang masih terjepit di dalam lubang kenikmatanku.

Lalu ia mendorong batang kejantanannya secara perlahan hingga ujungnya
seolah menumbuk perutku. Hasan melakukannya berulang-ulang. Aku merasa
ada semacam sentakan dan kedutan hebat saat Hasan menarik batang
kemaluannya dengan cepat. Gerakannya ini membuat napasku semakin
terengah-engah dan merasakan kenikmatan yang terus naik dan tak
tertahankan. Besarnya batang kejantanan Hasan membuat liang vaginaku
terasa sempit. Sangat terasa sekali bagaimana nikmatnya batang kemaluan
Hasan menggesek-gesek dinding liang vaginaku.

Secara refleks aku pun mengimbangi genjotan Hasan dengan menggoyang
pantatku. Semakin lama genjotan Hasan semakin cepat dan keras, sehingga
tubuhku tersentak-sentak dengan hebat. Slep.. slep.. slep.. demikian
bunyi gesekan batang kejantanan Hasan saat memompa liang kemaluanku.

“Akhh..! Akkhh..! Oohh..!” erangku berulang-ulang. Benar-benar luar
biasa sensasi yang kudapatkan. Hasan benar-benar menyeretku ke surga
kenikmatan, aku kembali merasa seperti gadis perawan yang sedang
melepaskan mahkotanya.

Tak berapa lama kemudian aku merasakan nikmat yang luar biasa dari ujung
kepala hingga ujung kemaluanku. Tubuhku menggelepar-gelepar di bawah
genjotan Hasan. Aku menjadi lebih liar dan menyedot-nyedot lidah Hasan
dan kupeluk tubuhnya erat-erat seolah takut terlepas.

“Ooh.. Oh.. Akhh..!” aku menjerit ketika hampir mencapai puncak
kenikmatan. Tahu bahwa aku hampir orgasme, Hasan semakin kencang
menggerakkan batang kemaluannya yang terjepit di liang kenikmatanku.
Saat itu tubuhku semakin menggelinjang liar di bawah tubuh Hasan yang
kekar. Tak lama kemudian aku benar-benar mencapai klimaks.

“Oohh.. Aauuhh.. Oohh..!” jeritku tanpa sadar. Secara refleks
jari-jariku mencengkrram punggung Hasan. Pantatku kunaikkan ke atas
menyongsong batang kemaluan Hasan agar bisa masuk sedalam-dalamnya. Lalu
kurasakan liang senggamaku berdenyut-denyut dan akhirnya aku merasakan
sedang melayang, tubuhku serasa ringan bagaikan kapas. Aku benar-benar
orgasme!! Gerakanku semakin melemah setelah mencapai puncak kenikmatan
itu. Hasan lalu menghentikan gerakannya.

“Enak kan Sayang..” bisik Hasan lembut sambil mengecup pipiku. Aku hanya
terdiam dan wajahku merona karena rasa malu dan nikmat. Hasan yang belum
mencapai klimaks membiarkan saja batang kejantanannya terjepit dalam
liang kemaluanku. Hasan sengaja membiarkan aku untuk menikmati sisa-sisa
kenikmatan itu. Aku kembali mengatur napasku, sementara aku merasakan
batang kemaluan Hasan mengedut-ngedut dalam jepitan liang senggamaku.
Tubuh kami berdua sudah mengkilat karena peluh yang membanjiri tubuh
kami berdua. Hanya kipas angin yang membantu menyejukkan kamar kost
mesum itu.

Setelah beberapa saat, Hasan yang belum mencapai klimaks kembali
menggerak-gerakkan batang kemaluannya maju mundur. Gerakannya yang
perlahan, lembut dan penuh perasaan itu kembali membangkitkan birahiku
yang telah sempat menurun. Kugoyangkan pinggulku seirama gerakan pantat
Hasan. Rasa nikmat kembali naik ke ubun-ubunku saat kedua tulang
kemaluan kami saling beradu. Gerakan batang kemaluan Hasan semakin
lancar dalam jepitan liang senggamaku.

Aku yang sudah cukup lelah hanya dapat bergerak mengimbangi ayunan
batang kemaluan Hasan yang terus memompaku. Hasan semakin lama semakin
kencang memompa batang kemaluannya. Sementara mulutnya tidak
henti-hentinya menciumi pipi dan leherku dan kedua tangannya meremas
sepasang payudaraku yang indah. Mendapat rangsangan tanpa henti seperti
itu, nafsuku kembali merambat naik menuju puncak. Dapat kurasakan
bagaimana kenikmatan mulai kembali menjalari seluruh tubuhku.

Bermula dari selangkanganku, kenikmatan itu menjalari putingku dan naik
ke ubun-ubun. Aku balik membalas ciuman Hasan. Pantatku bergerak memutar
mengimbangi batang kemaluan Hasan yang dengan perkasanya menusuk-nusuk
lubang vaginaku. Gerakan Hasan semakin liar dengan napas yang mendengus
tak beraturan. Pantatku kuputar-putar, kiri-kanan semakin liar untuk
menggerus batang kejantanan Hasan yang terjepit erat di dalam lubang
kenikmatanku.

Aku pun semakin tak bisa mengontrol tubuhku hingga kusedot lidah Hasan
yang menelusup masuk ke dalam mulutku. Tubuh Hasan mengejat-ngejat
seperti orang yang terkena setrum karena rasa nikmat yang luar biasa.
Kemudian jeritan panjang memenuhi ruangan kost itu saat aku mencapai
orgasme untuk yang kesekian kalinya. Sementara gerakan tubuh Hasan mulai
mengejat-ngejat tak beraturan.

“Ough.. Ough.. Ughh..!” Dengan napas yang terengah-engah, Hasan yang
berada di atas tubuhku semakin cepat menghunjamkan batang kejantanannya.
Lalu.. Crrtt.. Crrtt.. Crrtt.. Crrtt.. Crrtt.. Aku bisa merasakan
bagaimana batang kejantanan Hasan menyemprotkan air maninya dalam
kehangatan liang senggamaku. Matanya membeliak dan tubuhnya berguncang
hebat. Batang kejantanan Hasan pun mengedut-ngedut dengan kerasnya saat
menyemburkan air maninya. Aku bisa merasakan ada semprotan hangat di
dalam sana, nikmat sekali rasanya. Kami mencapai puncak kenikmatan
secara bersamaan.

“Teruss.. Teruss.. Putarr.. Sayanghh..!” dengus Hasan. Aku membantunya
dengan semakin liar memutar pinggulku. Setelah beberapa saat, tubuhnya
ambruk menindih tubuhku dengan batang kemaluan yang masih menancap pada
liang vaginaku. Kurasakan ada cairan yang mengalir keluar dari liang
kemaluanku. Napas kami menderu selama beberapa saat setelah pergumulan
nikmat yang melelahkan itu. Lalu kupeluk tubuh Hasan yang basah oleh
keringat, kuciumi seluruh wajahnya.

“Thank’s ya San.. Kamu memang sangat perkasa.. Tita sangat beruntung
memilikimu..” bisikku di telinganya.
“Kak I’in juga.. Jangan menolak kalau lain kali aku pengen bercinta lagi
dengan kakak ya..” balasnya. Aku mengangguk perlahan.

Lima belas menit kemudian aku membersihkan diri di kamar mandi sementara
Hasan masih berbaring mengatur napasnya. Saat mengenakan pakaian dan
celana, Hasan masih mencuri kesempatan untuk meremas kedua dadaku dan
mencium bagian belakang leherku. Atas permintaannya, BH dan CD yang
kupakai saat itu kuberikan pada Hasan sebagai tanda mata bahwa hubungan
kami tak akan berhenti sampai di sini saja.

*E N D*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: