Dari Email Turun Ke Ranjang – 1

Namaku Rio. Beberapa pembaca mungkin sudah pernah membaca pengalamanku
yang kutuangkan di situs ini. Semenjak pengalamanku dimuat, aku jadi
kebanjiran email. Dari sekian banyak email-email itu, ada satu email
yang dikirim dari seorang ibu yang usianya dia sebut 52 tahun. Untuk
menyembunyikan identitasnya, sebut saja namanya Lilis. Aku memanggilnya
dengan sebutan Mbak, jadi Mbak Lilis.

Perkenalan kami termasuk cepat. Hanya sekitar dua atau tiga kali
kirim-kiriman email, kami sudah bertukar nomer handphone. Setelah itu
kami mulai sering ber-SMS-ria dan mulai jarang email-emailan. Biasanya
aku SMS-an dengan Mbak Lilis di atas jam 9 malam, karena di atas jam
segitu suaminya baru berangkat kerja. Suami Mbak Lilis sebut saja Mas
Yuda, bekerja di perusahaan IT internasional yang afiliasinya berada di
Sudirman, dimana jam kerja sang suami menurut Mbak Lilis disesuaikan
dengan jam kerja kantor pusatnya di London.

Sementara Mbak Lilis sendiri bekerja di salah satu perusahaan pelayaran
dengan posisi yang kalau Mbak Lilis bilang gajinya cukup buat ngikutin
gaya hidup metropolitan. Aku nggak tau kenapa wanita itu enggan
menyebutkan posisinya. Jam kerja Mbak Lilis sebagaimana normalnya
perusahaan swasta, nine to five. Otomatis Mbak Lilis hanya sempat
bertemu Mas Yuda dari jam 7 malam saat tiba di rumah, sampai menjelang
jam 9. Kemudian wanita itu terpaksa tidur sendirian karena anak mereka
satu-satunya kuliah di Bandung dan tinggal di tempat kost-nya. Dan
ketika bangun pun sang suami belum tiba di rumah, sementara Mbak Lilis
sudah harus meninggalkan rumah sebelum sempat bertemu sang suami.

Itu yang Mbak Lilis ceritakan padaku lewat telepon. Dan karena seringnya
kesepian, Mbak Lilis sering menghabiskan waktu sendirinya bersama
teman-teman sepergaulannya. Tapi Mbak Lilis ternyata bukan tipe
wanita-wanita eksekutif yang gemar clubbing, dugem, atau kegiatan malam
lainnya. Wanita tersebut lebih senang kumpul bareng ibu-ibu sebayanya,
arisan, senam, shopping atau sekedar nongkrong bareng makan bakmi di
restoran.

Seru juga mendengar ceritanya. Kebetulan Mbak Lilis tipe orang yang
dominan dan periang, jadi setiap kali kami telpon-telponan, Mbak Lilis
selalu mendominasi pembicaraan. Sementara aku hanya menjadi pendengar
setia. Beberapa minggu setelah telpon-telponan, kita sepakat untuk
ketemu. Mbak Lilis menawarkan aku untuk main ke rumahnya.
“Iya Yo, di rumah aja lah lebih nyaman. Kalo di mall berisik” jawabnya
ketika kutanya kenapa lebih suka ketemu di rumah.
“Terserah Mbak Lis deh, aku sih dimana aja juga enak” sahutku.
Kemudian kami set waktu. Kami mengambil hari kerja, karena kalau weekend
tentunya Mbak Lilis menyediakan waktunya untuk sang suami.

Hari yang ditentukan pun tiba. Tadi sore Mbak Lilis sempat telpon ke
handphoneku untuk memastikan. Aku pun confirm ok. Pulang kerja aku
mampir ke rumah untuk makan dan mandi. Sambil menunggu waktu aku iseng
SMS-an dengan beberapa temanku.
Jam menunjukkan puku setengah sembilan. Aku langsung bersiap untuk
berangkat. Rumah Mbak Lilis tidak begitu jauh dari rumahku. Wanita itu
tinggal di daerah Cempaka Putih. Aku melesat kesana dengan taksi. Sampai
di komplek rumahnya, aku segera menelpon Mbak Lilis.
“Mbak aku udah sampai di gangnya nih, Mbak keluar ya” pintaku.
“Jangan Yo, kamu turun aja di ujung gang, terus kamu hitung 6 rumah dari
ujung yang pagar krem itu rumahku” jawab Mbak Lilis.

Aku pun menuruti apa yang dikatakannya. Setelah turun dari taksi aku
berjalan ke arah dalam dan menghitung.. satu.. dua.. tiga.. empat..
lima.. nah ini dia! Aku baru saja menekan bel yang ada di dekat pagar
ketika sesosok wanita keluar dari dalam rumah dan menghampiri pagar.
Wanita itu tersenyum ke arahku.
“Sampe juga Yo” sapanya. Ternyata dia Mbak Lilis. Aku tersenyum.
“Iya, nggak susah kok Mbak” jawabku sambil masuk ke dalam pagar.
Kuperhatikan wanita yang sedang menutup pagar ini. Wajahnya memang
menunjukkan seorang wanita setengah baya, namun kulit wajahnya halus
sekali. Tubuhnya yang sedikit gemuk terbungkus daster dari bahan linen.
Kulit kuning langsatnya yang mulus terasa halus sekali ketika secara tak
sengaja lengan kami bersentuhan. Rambut hitam lebatnya yang keriting
dibiarkan panjang sepunggung dan masih dalam keadaan basah. Kelihatannya
Mbak Lilis baru selesai mandi. Aroma sabun dan shampoo juga masih
tercium dari tubuhnya.

“Heh, bengong.. yuk masuk” ajakan Mbak Lilis mengejutkanku.
“Eh.. iya Mbak” jawabku. Aku mengikuti Mbak Lilis yang berjalan masuk ke
dalam rumah.
Di dalam ternyata Mbak Lilis sudah menyiapkan makan malam untukku.
“Aduh Mbak repot-repot deh” kataku ketika Mbak Lilis mengajakku makan.
“Ah kamu nggak usah basa-basi deh” ujar Mbak Lilis seraya menyendokkan
nasi untukku. Aku berusaha mencegah.
“Mbak.. Mbak.. aku tadi di rumah udah makan” cegahku sambil menyentuh
pergelangan tangan Mbak Lilis.
Aduh halusnya.. Wanita berwajah lembut itu pura-pura cemberut.
“Gitu deh.. kamu nggak hargain aku ya” serunya sambil merajuk.
Aku tersenyum. Gila nih orang udah kepala lima mukanya masih cute aja,
pikirku dalam hati.
“Iya deh, tapi jangan banyak-banyak ya” jawabku.
Mbak Lilis pun tersenyum sambil mengangguk. Kami pun makan malam berdua
sambil cerita-cerita dan cekakakan. Mbak Lilis antusias sekali membahas
pengalaman yang kuceritakan di situs ini.
“Gila Yo, trus tuh ABG pada kemana sekarang?” tanya Mbak Lilis di
sela-sela ceritaku.
“Masih ada Mbak, cuma udah jarang contact.. apalagi mereka nggak di sini
kan” ceritaku.

Tanpa terasa sudah hampir jam sepuluh malam. Aku membantu Mbak Lilis
membereskan meja bekas kami makan. Kemudian wanita itu menyuruhku
menunggu di ruang TV sementara dia mencuci piring. Tak lama kemudian
Mbak Lilis ikut ke ruang TV dan duduk di sofa di sebelahku. Wanita itu
merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Hmm.. lengannya terasa hangat dan mulus.
Kemudian Mbak Lilis melipat kakinya ke atas sofa.
“Udah nyucinya Mbak?” tanyaku basa-basi. Wanita itu tersenyum sambil
mengangguk.
“Kok nggak pake pembantu sih?” tanyaku lagi.
“Nggak, males Yo.. pembantu sekarang jarang yang beres. Apalagi kalau
malam begini aku sering di rumah sendirian. Takut ada apa-apa” jelasnya.
Bibirku membentuk bulatan kecil.
“Ya cari pembantunya yang cewek dong Mbak” timpalku.
“Kalo dia punya pacar gimana? Trus kalo pacarnya macem-macem gimana?
Hayoo.. hihihi” Mbak Lisa menjelaskan sambil mencubit hidungku gemas.
Aku membalasnya. Kemudian aku sengaja menatap wanita itu lama-lama
hingga yang ditatap menjadi salah tingkah.
“Ih.. genit liat-liat” serunya.
Aku tersenyum sambil memberanikan diri merangkul pundaknya.
“Mbak Lis sexy deh” bisikku di telinga wanita itu.
Mbak Lilis tertawa manja. Kemudian wanita itu mendekatkan wajahnya ke
wajahku. Dekat sekali, sehingga bibir kami hanya berjarak kurang dari
satu centimeter.
“Terus kalo sexy kenapa sayang?” desahnya tepat di wajahku.
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung melumat bibirnya yang lembut.
Hmm.. nikmat sekali. Mbak Lilis tampak menikmati ciuman dan hisapanku.
Lidahku pun menari dengan lincah, masuk ke dalam mulut Mbak Lilis dan
menjelajahi rongga mulutnya.
“mmhh.. ssllpp.. mm.. sshh” Mbak Lilis seolah tak mau kalah denganku.
Lidahnya ikut menari mengimbangi lidahku. Nafsu birahi yang mulai naik
menuntun tangan wanita itu untuk merengkuh kedua pipiku. hh.. lembut
sekali telapak tangannya.

Tanganku pun mulai menjelajahi lengan Mbak Lilis yang halus.
Perlahan-lahan kuusap lengan dan bahunya. Mbak Lilis yang semakin
terangsang mendorongku jatuh ke sofa tanpa melepaskan ciumannya. Aku
mengikuti saja. Dalam sekejap tubuh montoknya telah menindih tubuhku di
atas sofa. Penisku mulai tegang. Aku mencoba merentangkan kedua kakiku
agar penisku bisa berada pada posisi yang benar di balik celanaku. Bibir
Mbak Lilis sudah tak hanya menjelajahi bibirku, tapi juga mulai menjalar
ke bagian pipi, leher dan dadaku. Perlahan jemarinya yang lentik
mencopoti kancing kemejaku satu per satu. Upss.. ternyata tidak semua,
Mbak Lilis hanya melepas tiga kancing di atas. Kemudian kedua tangannya
melebarkan celah kemejaku dan.. aahh.. Wanita itu menjilati dadaku
dengan penuh nafsu.

Kedua tanganku merengkuh rambut keritingnya yang tergerai. Perlahan
tanganku mengusapi punggung dan lengan Mbak Lilis. Tanpa mempedulikan
birahiku yang semakin naik, Mbak Lilis terus menjilati dadaku. Bahkan
sekarang seluruh kancing kemejaku telah copot. Wanita itu menjilati
perutku dengan liar.
“sshh.. Mbbakk” desahku.
Mbak Lilis menghentikan aktivitasnya sejenak. Wanita itu memandangku
sambil tersenyum.
“Kenapa sayang?” desahnya. Aku tersenyum.
“Nggak pa-pa, enak banget Mbak” jawabku. Kemudian aku mengangkat tubuh
montok itu hingga berdiri tegak, dan kini giliranku yang aktif. Kupeluk
tubuh montok Mbak Lilis dan kujilati leher dan pundaknya. Wanita ini
hanya tertawa-tawa kecil seperti meremehkan ‘seranganku’. Kedua
tangannya membelai kepalaku dengan lembut, dan akhirnya bergerak
melepaskan kemejaku. Kini aku telah bertelanjang dada.
“Sini sayang.. sshh.. oohh” Mbak Lilis memeluk tubuhku erat-erat
sehingga dadaku dapat merasakan kenyalnya payudara wanita itu.
Aku tidak lantas diam, lidahku terus menari menjelajahi leher dan
tengkuk Mbak Lilis. Wanita itu mulai merasa keasyikan. Aku pun
meneruskan dengan menjilati bagian belakang telinganya, lantas mengulum
dan melumat telinganya yang putih bersih.
“sshh.. Riioo.. hh” tubuh Mbak Lilis menggelinjang menahan rasa nikmat.
Aku tak peduli, lidahku terus menjalar ke bahu, dan akhirnya aku mencoba
menurunkan tali daster yang tersangkut di bahu Mbak Lilis dengan mulutku.

Kedua tali daster itu sudah turun dan aku pun bisa melihat putihnya dada
Mbak Lilis. Aku baru sadar kalau sejak tadi wanita ini tidak mengenakan
bra. Aku pun menjadi gemas dan mulai meremas kedua payudaranya yang
montok namun sudah agak turun.
Mbak Lilis merebahkan tubuhnya di atas sofa agar bisa lebih menikmati
remasanku. Sementara itu kedua tangan Mbak Lilis kembali merengkuh
kepalaku untuk mengajak berciuman. aahh.. lagi-lagi aku merasakan
kehangatan bibirnya. mmhh.. nikmat sekali. Birahiku semakin naik.
Tanganku pun berpindah ke lengannya untuk menurunkan seluruh tali
dasternya. Sekarang daster itu sudah turun sampai ke pinggang. Uuhh..
aku bisa melihat dada Mbak Lilis yang putih bersih. Kedua tanganku
meremas payudara yang kenyal itu dan kujilati putingnya.

*Ke bagian 2*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: