Dari Email Turun Ke Ranjang – 2

*Dari bagian 1*

“Sshh.. ohh.. Rio.. sshh” Mbak Lilis mendesah menahan rasa nikmat.
Aku tak peduli. Lidahku terus menjelajahi puting dan payudaranya secara
bergantian. Kiri.. kanan.. kiri.. kanan.. sementara kedua tanganku tak
henti-henti meremasnya.
“Sshh.. Riioo” tiba-tiba Mbak Lilis bangkit dan memeluk tubuhku erat
sekali. Hmm.. payudaranya yang hangat pun menempel ketat di dadaku.
Nikmat sekali. Mbak Lilis mendesah panjang sambil membenamkan wajahnya
di bahuku. Aku mengangkat kepala wanita itu dari bahuku.
“Kenapa Mbak?” tanyaku setengah berbisik.
Mbak Lilis tersenyum agak tersipu, lantas menggeleng. Kedua tangannya
yang lembut membelai pipiku.
“Nggak pa-pa.. Yo” desahnya.
Wajahnya terlihat habis menuntaskan sesuatu. Aku langsung menyimpulkan
bahwa wanita di hadapanku ini baru saja melepas orgasmenya. Aku
tersenyum sambil mencubit payudara Mbak Lilis.
“Udah keluar ya Mbak?” bisikku setengah menggoda.
Mbak Lilis tersenyum geli sambil mengangguk. Aku pun tertawa. Wanita itu
malah mencubit pinggangku.
“Ketawa lagi.. awas ya kamu, ntar aku bikin kelojotan baru tau rasa..
hihihihi”
Mbak Lilis langsung mendorong tubuhku hingga jatuh di sofa lagi.
Kemudian dengan liar wanita itu mencoba melepas ritsleting celanaku. Tak
diperdulikannya daster yang sudah mawut-mawut di tubuhnya itu. Aku
membiarkan Mbak Lilis menelanjangiku. Dan tak lama kemudian tubuhku
sudah lolos tanpa busana.

Mbak Lilis tersenyum melihat batang penisku yang mulai tegang.
Digelitiknya daerah sensitifku dengan rambutnya yang panjang. Hmm..
geli-geli enak. Mbak Lilis kemudian meneteskan air ludahnya ke atas
kepala penisku. aahh.. aku merasakan enak ketika air ludah itu menyentuh
lubang kencingku. hh.. tubuhku sedikit bergidik. Dengan jemari
lentiknya, Mbak Lilis meratakan air ludah yang membasahi penisku. Dengan
lembut wanita itu mengusap seluruh permukaan penisku yang sudah licin.
hhmm.. nikmat sekali. Kelima jemari lentiknya mengusap dan menjepit
pangkal penisku, dan.. ahh.. Mbak Lilis mulai menjilati kepala penisku
yang sudah basah.

Lembut sekali lidah wanita ini. Sementara tangan Mbak Lilis mengocok
bagian pangkal penisku, lidahnya lincah menjelajahi kepala dan leher
penisku. Dijelajahinya seluruh daerah sensitifku. Dan sebagai ibu-ibu
yang sudah lama menikah, Mbak Lilis lihai sekali mencari titik-titik
rangsangku. Akhirnya batang penisku masuk ke dalam mulutnya yang hangat.
Ahh.. nikmat sekali. Kulihat kepala Mbak Lilis naik-turun mengikuti
irama kenikmatan yang diberikan padaku. Sebelah tangannya yang sejak
tadi diam saja kini merayapi daerah perutku. Uuuhh.. nikmatnya. Birahiku
semakin memuncak. Tak tahan kedua tanganku pun meremas rambut Mbak Lilis
yang lebat. Wanita itu bagai tak peduli terus menjilat, mengulum dan
mengisap batang penisku.
Birahiku yang semakin naik menuntunku untuk mengangkat tubuh Mbak Lilis
naik ke atas tubuhku. Wanita itu tersenyum senang melihat birahiku yang
menyala-nyala. Aku meloloskan daster yang masih menyangkut di
pinggangnya. aahh.. gila, ternyata Mbak Lilis juga tidak mengenakan
celana dalam sejak tadi.

Kini kami berdua sudah sama-sama telanjang bulat. Mbak Lilis duduk di
atas pahaku, kedua tangannya merangkul leherku. Aku memeluk pinggang
Mbak Lilis yang dihiasi sedikit lemak itu.
“Sekarang Yo?” desahnya.
Aku tersenyum sambil menggeleng. Kemudian secara mengejutkan aku memutar
posisi hingga Mbak Lilis kini yang duduk di sofa. Wanita itu sempat
menjerit sesaat. Detik berikutnya dengan buas aku mengangkat sebelah
paha Mbak Lilis yang mulus ke atas sandaran sofa. Aku memperhatikan
vagina Mbak Lilis yang ditumbuhi bulu lebat sekali. Hmm.. terus terang
bagiku kurang nikmat menjilati vagina wanita yang ditumbuhi bulu yang
lebat.

“Mbak bulunya banyak banget” seruku. Mbak Lilis mengangguk.
“Iya, nggak pernah dicukur. Aku nggak berani” jawabnya. Aku tersenyum
penuh arti.
“Aku cukurin ya Mbak” pintaku. Mbak Lilis terlihat terkejut.
“Hah.. terus gimana?” tanyanya setengah bingung.
“Ya nggak gimana-gimana hihihi.. Mbak ada cukuran?” tanyaku.
Tanpa diminta dua kali Mbak Lilis bangkit menuju kamar tidurnya dan
beberapa saat kemudian kembali dengan sebuah alat cukur manual.
“Oke.. aku cukur ya, mau model apa Mbak? Hihihihi” godaku.
“Apa aja deh, abis juga boleh hihihi” jawab Mbak Lilis.
Aku pun mulai beraksi. Kucukuri seluruh bulu yang tumbuh di daerah
kemaluan Mbak Lilis sampai bersih, diiringi desahan-desahan manja si
pemilik bulu.
“Udah Mbak” seruku. Mbak Lilis melongok ke bawah.
“Hihihi.. botak abis, aku cuci dulu ya”
Mbak Lilis pun ke kamar mandi untuk membersihkan bulu-bulunya. Tak lama
wanita itu kembali ke ruang TV.
“Taraa” serunya menirukan suara terompet sambil merentangkan kedua
tangannya. Aku tertawa melihat gayanya.
“Waahh.. mulus abiss” seruku.

Dengan gemas Mbak Lilis menghampiriku dan memeluk tubuhku. Aku pun
memutar tubuh hingga Mbak Lilis kembali duduk di sofa. Seperti tadi aku
mengangkat paha Mbak Lilis dan kudekatkan wajahku ke arah vaginanya.
Hmm.. aroma kewanitaannya langsung tercium. Dengan lembut kujilati
sekeliling vagina dan selangkangan Mbak Lilis sebelum akhirnya aku
bergumul dengan bibir vaginanya yang masih rapat.
“sshh.. Rioo.. aahh” Mbak Lilis menggelinjang menahan nikmat.
Lidahku semakin liar menjelajahi vagina Mbak Lilis. Jemariku pun ikut
membantu melonggarkan liang vaginanya agar aku bisa menjilati klitoris
Mbak Lilis. Tubuh Mbak Lilis terus menggelinjang tak karuan. Nafasnya
tidak teratur. Desahan-desahan menahan nafsu terus keluar dari bibirnya.
“Riioo.. sshh” desahan panjang Mbak Lilis kembali terdengar.
Bersamaan dengan itu dari vagina yang tengah kujilati pun keluar cairan
kewanitaannya. Hmm.. aku langsung menghirup cairan itu sambil menyedot
dinding vagina Mbak Lilis. Tubuh Mbak Lilis sampai terlonjak.
“sshh.. cukup sayang.. sekarang kasih yang aslinya dong” pinta Mbak
Lilis seraya mengangkat tubuhku.
Aku tersenyum sambil mengangguk. Perlahan aku mulai mengarahkan batang
penisku ke vagina Mbak Lilis. Pelan-pelan kumasukkan sedikit demi
sedikit. Dan.. ssllpp.. aahh.. penisku pun amblas dalam hangatnya vagina
Mbak Lilis. Wanita itu merintih sejenak. Kemudian aku
menggoyang-goyangkan pantatku untuk berbagi kenikmatan dengan Mbak Lilis.

“Oohh.. oohh.. sshh.. aahh” desahan dan erangan kami saling bersahutan.
Kami betul-betul menikmati permainan. Vagina Mbak Lilis terasa hangat
sekali mengulum penisku. Kedua tangan kami saling berpegangan. Kira-kira
lima belas menit kemudian aku mulai merasa dinding vagina Mbak Lilis
berdenyut dan cengramannya semakin kencang. Desahan Mbak Lilis pun
semakin liar. Tak lama kemudian aku merasakan ada cairan yang membanjiri
penisku dari dalam vagina Mbak Lilis. aahh.. wanita itu orgasme lagi.
Kulihat Mbak Lilis tersenyum simpul.

Kemudian kami berganti posisi. Mbak Lilis nungging di sofa sambil
berpegang pada sandaran, dan sambil berdiri kembali kutembus liang
kenikmatan wanita itu dengan penisku. Uuuhh.. kedua tanganku memegangi
pinggul Mbak Lilis yang ikut maju-mundur karena goyanganku. Kuusap
pantat Mbak Lilis yang halus dan mulus. Bosan dengan posisi tersebut,
kami berganti lagi. Kali ini aku duduk di sofa dan Mbak Lilis duduk di
atas tubuhku. Hmm.. hangat sekali tubuhnya. Mbak Lilis cukup lihai
memimpin permainan. Pinggulnya tak hanya maju-mundur tapi juga memutar
sehingga memberi sensasi nikmat yang luar biasa pada penisku. Aku
memeluk tubuh montok Mbak Lilis erat-erat hingga payudara wanita itu
menempel di wajahku. Huuff.. lidahku segera menjulur keluar untuk
menikmati kenyalnya puting susu Mbak Lilis. Sesekali kugigit dengan
pelan. Wanita itu berkali-kali menjerit di tengah desahan nikmatnya.

Setelah beberapa menit aku mulai merasa spermaku akan muntah dari penisku.
“aahh.. ahh.. Mbak.. udah mau nyampe nih” desahku.
Mbak Lilis tersenyum sambil terus mendekap kepalaku.
“sshh.. iya Yo.. aku juga nih, tungguin yaa” desah Mbak Lilis seraya
mencium bibirku.
Ugghh.. lumatan bibir Mbak Lilis membuatku semakin tak kuasa menahan
kendali. Kucengkeram pinggang Mbak Lilis yang tengah bergoyang hebat
agar wanita itu berhenti bergoyang.
“sshh.. kenapa sayang?” tanya Mbak Lilis. Aku tersenyum.
“Nggak pa-pa, nunda sebentar Mbak.. hihihi” jawabku. Mbak Lilis mencubit
dadaku gemas.
“Dasar ya” desahnya manja. Wanita itu memeluk tubuhku erat. aahh..
hangat sekali tubuhnya.
“Terusin Mbak” bisikku sambil menjilati telinganya.
Tubuh Mbak Lilis kembali bergoyang. aahh.. betul-betul nikmat. Gairahku
semakin memuncak, dan aku juga mulai merasa dinding vagina Mbak Lilis
berdenyut.
“Rioo.. bareng ya.. keluarin di dalam aja” desah Mbak Lilis.
Aku mengangguk. Mbak Lilis semakin mempercepat goyangannya. Aku pun
membantu dengan menggoyangkan pinggangku. aahh.. ahh.. penisku semakin
cepat keluar masuk vagina Mbak Lilis, dan.. Croott.. crott.. crroott..
croott.. ccrroott.. ccroott.. Entah berapa kali penisku menyemprotkan
cairan sperma kuat-kuat ke dalam vagina Mbak Lilis.

“aawww.. kamu duluan ya sayang.. hihihihi” desah Mbak Lilis.
Aku tersenyum kecut seraya memeluk tubuh Mbak Lilis. Dengan sisa-sisa
yang ada aku mencoba menggenjot tubuhku untuk membuat Mbak Lilis
mencapai puncak. Dan..
“aahh.. sshh.. Riioo” Mbak Lilis kembali mengeluarkan desahan panjang
seiring membanjirnya vagina wanita itu.
Dengan tubuh agak lemas kami berpelukan. Penisku masih tertancap di
dalam vagina Mbak Lilis.
“sshh.. makasih ya sayang, aku udah lama banget nggak ngerasa kayak
gini” desah Mbak Lilis di sela-sela kecupan bibirnya.
“Iya.. makasih juga untuk pengalamannya Mbak hihihi” jawabku.
Mbak Lilis memelukku dengan gemas dan melumat bibirku habis-habisan.
Malam itu akhirnya aku menginap di rumah Mbak Lilis. Aku tidak ingat
berapa kali kami memacu birahi bersama. Hampir setiap sudut rumah itu
kami pakai. Di ruang TV, ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi dan juga
dapur. Yang kuingat kami tertidur di ranjang Mbak Lilis sekitar jam 3
pagi. Kemudian Mbak Lilis membangunkanku jam 7 pagi. Kulihat wanita itu
sudah segar kembali lengkap dengan pakaian kantornya.
“Mandi dulu sayang.. kamu juga kan mesti ke kantor” desah Mbak Lilis
seraya membangunkanku.

Aku harus kembali ke rumah dulu sebelum ke kantor karena aku tidak
membawa baju. Setelah mandi, aku berangkat bareng Mbak Lilis dengan
taksi yang dipesannya ke rumah. Oke, sampai di sini dulu pengalamanku
dengan Mbak Lilis. Aku belum tau bagaimana selanjutnya hubungan kami.
Yang jelas kami masih sering SMS-an dan telepon. Tunggu saja cerita
selanjutnya.

*E N D*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: